• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

Emas Menguat Ditolong Perang?

Harga emas naik pada awal perdagangan hari ini, melanjutkan tren kenaikan selama enam hari. Harga emas terus naik seiring meningkatnya permintaan safe haven di tengah konflik di Timur Tengah.

Dikutip dari CNBC, pada perdagangan Rabu (21/2) harga emas di pasar spot ditutup menguat 0,07% di posisi US$ 2024,99 per troy ons. Harga emas bertahan di psikologis US$2.000 per troy ons setelah sempat jatuh ke level psikologis US$1.900 pada perdagangan 16 Februari 2024.

Sementara, hingga pukul 06.30 WIB Kamis (22/2), harga emas di pasar naik 0,04% di posisi US$ 2025,89 per troy ons.

Harga emas sedikit naik  pada hari Rabu karena konflik Timur Tengah memicu permintaan terhadap aset safe haven. Faktor ini membatasi penurunan harga emas dan mengurangi ekspektasi bahwa penurunan suku bunga akan segera terjadi setelah risalah Federal Reserve dirilis.

Jim Wyckoff, analis senior di Kitco Metals, mengatakan kepada Reuters bahwa ketegangan akibat perang Israel-Hamas masih menghambat pasar emas.

Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran terus menyerang jalur pelayaran di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab, dengan setidaknya empat kapal lagi diserang drone dan rudal sejak Jumat.

Pada Kamis pagi waktu Indonesia (22/02), The Fed  merilis risalah FOMC, risalah rapat bulan Januari lalu.Risalah rapat ini diharapkan dapat memberikan panduan kepada pelaku pasar mengenai kebijakan suku bunga di masa depan.

Dalam risalah tersebut, pejabat The Fed kembali mengindikasikan pada pertemuan terakhir mereka bahwa mereka tidak terburu-buru untuk menurunkan suku bunga dan menyatakan optimisme dan kehati-hatian terhadap inflasi.

Dalam risalah tersebut, pejabat The Fed kembali mengindikasikan pada pertemuan terakhir mereka bahwa mereka tidak terburu-buru untuk menurunkan suku bunga dan menyatakan optimisme dan kehati-hatian terhadap inflasi.

Keputusan pemangkasan suku bunga akan diambil jika pejabat The Fed memiliki keyakinan yang besar bahwa inflasi terus melandai.

"Sebagian besar partisipan menekankan risiko jika melonggarkan stance kebijakan lebih cepat dan menekankan penting untuk menilai data-data mendatang dengan hati-hati untuk memastikan apakah inflasi memang akan berlanjut turun ke 2%," tulis FOMC, dikutip dari CNBC International.

The Fed kemungkinan akan menurunkan suku bunga dana federal pada Juni 2024, menurut mayoritas ekonom yang disurvei oleh Reuters.
 

Emas kemungkinan akan tetap berada dalam kisarannya, pasar saat ini akan melihat pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) pada pekan depan dan kemudian data gaji serta kesaksian Jerome Powell di Kongres pada awal Maret.

Sementara indeks dolar melemah 0,07% di level 104, pada perdagangan Rabu (21/2/2024), menjadikan emas batangan yang dihargakan dalam greenback lebih menarik bagi pembeli luar negeri.

Harga emas sangat sensitif terhadap pergerakan suku bunga AS. Kenaikan suku bunga AS akan membuat dolar AS dan imbal hasil US Treasury menguat. Kondisi ini tak menguntungkan emas karena dolar yang menguat membuat emas sulit dibeli sehingga permintaan turun. Emas juga tidak menawarkan imbal hasil sehingga kenaikan imbal hasil US Treasury membuat emas kurang menarik.

Namun, suku bunga yang lebih rendah akan membuat dolar AS dan imbal hasil US Treasury melemah, sehingga dapat menurunkan opportunity cost memegang emas. Sehingga emas menjadi lebih menarik untuk dikoleksi

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?