Perdagangan pada hari senin (8/1) harga emas turun sebanyak -0,64% di posisi $2044.38 per troy ons dan dilanjutkan dengan sesi kerugian pada sebelumnya usai data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) yang lebih kuat dari perkiraan, menyebabkan pasar untuk mengkaji ulang ekspektasi terkait potensi penurunan suku bunga lebih awal. Gagasan ini semakin diperparah oleh data nonfarm payrolls yang melebihi perkiraan pada hari jumat (5/1), menunjukkan adanya ketahanan dalam pasar tenaga kerja dan memberikan Federal Reserve lebih banyak fleksibilitas untuk mempertahankan suku bunga pada tingkat yang lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.
Dikutip dari investing.com, emas spot turun 0,5% ke $2035.69 per troy ons, dan emas berjangka yang berakhir Februari turun 0,4% menjadi 2042.25 per troy ons. kedua emas tersebut turun sekitar 0,9% pada awal tahun 2024. Pasar saat ini berfokus pada data inflasi utama AS yaitu Consumer Price Index(CPI) yang akan terbit pada hari kamis ini. Adanya tanda-tanda inflasi yang menguat merupakan tanda yang buruk bagi spekulasi penurunan suku bunga oleh The Fed.
The Fed juga telah memberikan peringatan adanya indikasi inflasi dan stabilitas pasar yang berlanjut dan berkemungkinan besar akan menghalangi keputusan untuk penurunan suku bunga lebih awal. Suku bunga yang lebih tinggi dalam jangka waktu yang lama berkemungkinan akan memberikan banyak tekanan bagi emas. Tingginya biaya peluang berinvestasi dalam emas dan suku bunga yang tinggi tidak memberikan dampak imbal hasil yang baik.
Bagikan Berita Ini