Pada penutupan perdagangan Selasa (14/11, indeks dolar AS (DXY) merosot 1,49% ke angka 104,05. Hal ini menandai bahwa pelaku pasar tengah menjual dolar AS secara besar-besaran. Melemahnya inflasi AS dimulai dari harapan akan The Fed yang tidak akan hawkish dan optimisme pasar bahwa The Fed tidak akan menaikan suku bunganya lagi.
Melandainya inflasi AS memberikan dampak positif ke mata uang global. Mata uang global mengalami penguatan akibat inflasi AS. Bahkan tidak hanya rupiah, mata uang lainnya pun mengalami penguatan khususnya mata uang Asia.
Dikutip dari CBNC, Inflasi AS melandai ke 3,2% (year on year/yoy) pada Oktober 2023, lebih rendah dibandingkan 3,7% (yoy) pada September serta di bawah ekspektasi pasar (3,3%). Ini adalah kali pertama inflasi AS melandai dalam empat bulan terakhir.
Inflasi melemah ditopang oleh turunnya harga energi, terutama besin. Inflasi pada bahan pangan juga juga melandai menjadi 3,2% pada Oktober dari 3,7% pada September. Melandai inflasi AS ini menjadi angin segar bagi pasar keuangan global karena posisi saat ini sudah semakin mendekati target The Fed yakni 2%.
Source : CNBC
Bagikan Berita Ini