Rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akibat proyeksi pertumbuhan ekonomi AS secara kuartalan meningkat drastis. Seiring dengan meningkatnya permintaan untuk dolar AS, permintaan terhadap Rupiah mungkin menurun, yang pada gilirannya dapat menyebabkan depresiasi mata uang Indonesia. Efek melemahnya Rupiah ini membuat eksportir sengaja tahan dollar AS dan suku bunga
Rupiah dibuka di angka Rp15.860/US$ atau melemah 0,09%. Sementara indeks dolar AS (DXY) pada pukul 09.09 WIB melemah sebesar 0,05% menjadi 106,22. Angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan Rabu (24/10) yang berada di angka 106,27. Pergerakan nilai tukar mata uang ini dapat dipengaruhi oleh berbagai factor termasuk politik, dan perubahan sentimen pasar global.
Kenaikan suku bunga acuan di AS turut diikuti oleh kenaikan suku bunga simpanan valuta asing (valas) dimana pun berada, termasuk Indonesia. Prospek ekonomi yang suram dan estimasi penguatan dolar di masa mendatang, membuat banyak pemilik dolar AS, cenderung menyimpan duit nya dalam bentuk simpanan.
Lebih runyamnya lagi, banyak yang kemudian menukarkan tabungan rupiahnya ke tabungan dalam bentuk dolar. Seperti yang terjadi di tahun lalu, dikutip dari CNBC, data Bank Indonesia dimana dana pihak ketiga (DPK) valas perbankan tumbuh 12,1% secara tahunan menjadi Rp 1.050 triliun pada Agustus 2022. Pertumbuhannya jauh lebih tinggi dari DPK rupiah yang hanya naik 7,6% menjadi Rp 6.305 triliun.
Eksportir, sebagai penghasil pundi-pundi devisa mengalihkan dana hasil ekspor (DHE) ke bank dalam negeri setelah aturan relaksasi-dapat menyimpan di luar negeri-oleh BI dicabut pada sejak 2022. Namun banyak diantara mereka tetap enggan menukarnya dalam rupiah. Mereka, lebih nyaman menyimpan dalam bentuk dolar AS, mengingat prospek suram ekonomi ke depan.
Source: CNBC
Bagikan Berita Ini