Rupiah masih menunjukan kelemahannya terhitung senin (04/09). Pagi ini dibuka pada level Rp 15.330 per dolar AS.
Dikutip dari CNBC, Pergerakan rupiah juga akan dibayangi sentimen dari AS. Amerika Serikat, kemarin (6/9/2023), tercatat data ekonomi AS yakni ISM Services PMI yang mengukur aktivitas bisnis non-manufaktur melonjak ke 54,5 pada Agustus. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan 52,7 pada Juli serta di atas ekspektasi pasar yakni 52,5.
Harga minyak dunia melonjak ke level US$90 per barel. Hal ini berdampak pada fluktuasi rupiah. Tercatat kali pertama minyak menyentuk harga tersebut setelah hampir 11 bulan terakhir.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak ini bisa membebani anggaran karena subsidi BBM semakin besar dan lonjakan harga minyak juga menjadi kabar buruk karena akan membebani impor. Artinya, ada kebutuhan dolar AS yang meningkat. Hal ini membuat dolar AS kembali naik dan rupiah tertekan.
Disamping data-data tersebut, pada hari ini pasar perlu mencermati data neraca dagang serta ekspor-impor dari China mengingat China adalah negara tujuan ekspor terbesar bagi Indonesia dengan kontribusi sekitar 24-25% sehingga perkembangan di Tiongkok akan sangat mempengaruhi Indonesia.
Jika impor China kembali terkontraksi maka hal tersebut harus menjadi warning bagi permintaan Tiongkok untuk produk Indonesia. Ekspor ke China pun bisa turun lebih tajam.
Bagikan Berita Ini