Harga minyak turun tajam pada perdagangan Rabu (Kamis waktu Jakarta), karena para pedagang khawatir krisis perbankan dapat merusak pertumbuhan ekonomi global.
Dikutip darii CNBC, Kamis (16/3/2023), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun lebih dari 5 persen menjadi uSD 67,61 per barel. Harga minyak ini mencapai level terendah sejak Desember 2021.
Sedangkan harga minyak mentah Brent yang merupakan harga minyak patokan internasional turun 4 persen menjadi USD 74,36 per barel.
“Pasar minyak akan terjebak dalam surplus (stok minyak) untuk sebagian besar semester pertama tahun ini, tapi itu akan berubah selama kita tidak melihat kesalahan kebijakan besar oleh The Fed yang memicu resesi parah,” kata Ed. Moya, Analis Pasar Senior Oanda.
“Sekarang (harga minyak) mendekati pertengahan USD 60-an, penurunan harga minyak mentah WTI bergantung pada seberapa buruk gambaran makro yang didapat," lanjut dia.
Uji ulang terendah Oktober dapat menambah tekanan ke bawah pada minyak mentah WTI, katanya, menambahkan bahwa stok energi mungkin kesulitan mengingat prospek permintaan yang melemah dan surplus kemungkinan akan bertahan dalam jangka pendek.
“Namun pandangan jangka panjang masih mendukung memiliki energi dalam portofolio Anda karena banyak raksasa minyak memiliki neraca yang kuat yang mendukung pembelian kembali dan dividen yang berkelanjutan,” tambahnya.
Penurunan terjadi karena pasar risiko global mengalami aksi jual menyusul berita bahwa investor terbesar Credit Suisse, Saudi National Bank, tidak akan memberikan lebih banyak bantuan untuk bank yang diperangi tersebut.
Kabar tersebut menyebabkan penurunan lebih dari 20 persen saham bank yang terdaftar di AS. Ini juga menimbulkan kekhawatiran atas keadaan sistem perbankan global kurang dari seminggu setelah dua bank regional AS bangkrut.
SUMBER:LIPUTAN 6
Bagikan Berita Ini