• company.vifxjogja@gmail.com
  • (0274) 2924181
News Photo

Gold Analysis Report

Nilai emas mengalami penurunan drastis seiring dengan ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve yang tidak seagresif sebelumnya. Hal ini menguatkan nilai dolar dan mengurangi minat investor terhadap emas. Data dari CNBC menunjukkan bahwa harga emas dunia di pasar spot pada penutupan Jumat (15/11) tercatat sebesar US$2.561,24 per troy ons, turun 0,19% dari posisi sebelumnya. Sementara itu, pada awal perdagangan hari Senin (18/11) pukul 6.15 WIB, harga emas berada di US$2.573,29 per troy ons, naik 0,47% dari posisi sebelumnya.

Indeks dolar (DXY) mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam lebih dari sebulan, yang membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Data CNBC menunjukkan bahwa pada perdagangan Jumat (15/11), DXY berada di 106,723. Posisi ini merupakan yang tertinggi sejak Oktober 2023.

Imbal hasil obligasi AS terus meningkat setelah data menunjukkan bahwa penjualan ritel di ekonomi terbesar dunia itu naik lebih dari yang diperkirakan bulan lalu. "Semua ketidakpastian, khususnya ketidakpastian jangka pendek, telah hilang dari campuran. Sekarang emas kembali ke fundamental dasar," kata Alex Ebkarian, Chief Operating Officer di Allegiance Gold.

Para ekonom percaya bahwa rencana tarif Presiden terpilih Donald Trump dapat memicu inflasi, yang berpotensi memperlambat siklus pelonggaran suku bunga oleh The Fed. Suku bunga yang lebih tinggi membuat emas, sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, menjadi kurang menarik untuk disimpan. Pada hari Kamis, Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan bahwa bank sentral AS tidak perlu terburu-buru untuk menurunkan suku bunga. Pasar kini memperkirakan peluang sebesar 62% untuk pemotongan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan Desember, turun dari 83% sehari sebelumnya, menurut alat CME Fedwatch.

"Hingga saat ini emas terkena dampak negatif akibat terpilihnya Trump, tetapi ini dapat berubah jika muncul lebih banyak ketidakpastian yang mungkin terjadi dalam jangka menengah," kata Carlo Alberto De Casa, analis pasar di Kinesis Money.

CNBC

Bagikan Berita Ini

Komentar

Apakah Anda ingin mendapatkan layanan berkualitas kami untuk Investasi?